Tonggak Sejarah

Kemitraan Pendiri Kami, Edwin Soeryadjaya dan Sandiaga S. Uno, Berawal Sejak 1997

Meskipun ketidakpastian ekonomi dan politik saat itu, mitra pendiri kami melihat potensi besar yang dimiliki Indonesia. Pada saat sebagian besar investor memindahkan investasinya keluar dari Indonesia, para pendiri kami justru aktif menjajaki peluang investasi.

Para pendiri kami membayangkan bahwa pasca krisis, bangsa Indonesia akan membutuhkan energi untuk menunjang perekonomian, dan batubara merupakan sumber energi yang paling mudah diakses. Berdasarkan ini, pendiri kami beinvestasi di Adaro pada tahun 2001, dan memfasilitasi Adaro untuk menjadi perusahaan batubara pit-to-port yang terintegrasi. Pada tahun 2008, Penawaran Umum Perdana Adaro menjadi IPO terbesar di pasar modal Indonesia.

Saat ini, Adaro terus menjadi salah satu perusahaan batubara yang terbesar di Indonesia.

Saratoga percaya bahwa nilai investasi di Adaro akan terus meningkat dengan adanya pengembangan ke segmen pembangkit listrik yang menjadikan perusahaan batubara ini terintegrasi pit-to-power.

Menyusul keberhasilan Adaro, Saratoga terus melihat sektor-sektor lain yang memiliki potensi pertumbuhan. Pada tahun 2004, para  pendiri kami, bersama-sama dengan Provident Capital, mendapatkan kesempatan untuk berinvestasi di sebuah perusahaan menara telekomunikasi independen yang pada saat itu hanya memiliki tujuh menara di seluruh Indonesia. Pendiri kami melihat potensi pertumbuhan pada sektor ini sehingga memutuskan untuk berinvestasi di perusahaan menara telekomunikasi kecil tersebut. Saratoga berhasil mengembangkan perusahaan secara substansial, dan mengubah nama perusahaan menjadi Tower Bersama Infrastructure Group (TBIG).

Saat ini, TBIG memiliki lebih dari 11.000 situs telekomunikasi yang melayani lebih dari 18.000 penyewa dan merupakan perusahaan menara telekomunikasi terkemuka di Indonesia berdasarkan nilai kapitalisasi pasar.

Dalam beberapa tahun terakhir, Saratoga melihat tren yang berkembang di sektor konsumer di Indonesia. Pada tahun 2010, Saratoga berinvestasi di Mitra Pinasthika Mustika (MPM), sebuah perusahaan otomotif yang terdiversifikasi dan memiliki pangsa pasar di sepeda motor ritel, distribusi sepeda motor, komponen sepeda motor, minyak pelumas, dan pembiayaan sepeda motor. Pasca-akuisisi, Saratoga memandu MPM dalam hal strategis untuk memperkuat bisnis inti, spin-off bisnis yang memiliki potensi pertumbuhan yang rendah, serta memasuki bisnis yang memiliki nilai ekonomis yang lebih tinggi.

Pada Juni 2013, Saratoga memasuki pasar modal Indonesia, berhasil mencatatkan diri di BEI, dan menjadi perusahaan investasi aktif pertama yang tercatat di Indonesia. Ke depan, Saratoga terus fokus pada kekuatan dan kemampuan dalam mencari peluang investasi, menciptakan nilai, dan menumbuhkan nilai portofolio investasinya di tiga sektor utama perekonomian Indonesia: Sumber Daya Alam, Infrastruktur, dan Konsumer.

Tutup